Home / Kajian / Jihad; Sebagai Pertahanan Atau Karena Kekufuran? (3)

Jihad; Sebagai Pertahanan Atau Karena Kekufuran? (3)

LanjutanJihad; Sebagai Pertahanan Atau Karena Kekufuran? (2)
Kelemahan Dalil Pendapat Kedua

Ayat yang digunakan oleh pendapat kedua sebagai dalil adalah surat At Taubah ayat 5 dan 29. Untuk ayat yang pertama (At Tawbah: 5), jika kita hanya membaca dan berhenti pada ayat tersebut tanpa melanjutkan ayat-ayat setelahnya kita akan menemukan kebenaran apa yang diungkapkan oleh pendapat pertama bahwa alasan perang adalah karena adanya kekufuran. Namun kalau kita teliti ayat-ayat setelahnya (Q.S. At Tawbah: 6-8) maka akan kita temukan adanya kontradiksi pada apa yang dipahami pendapat pertama. Perhatikan ayat-ayat berikut:

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (Q.S. At Tawbah: 6)

كَيْفَ يَكُونُ لِلْمُشْرِكِينَ عَهْدٌ عِنْدَ اللَّهِ وَعِنْدَ رَسُولِهِ إِلَّا الَّذِينَ عَاهَدْتُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ فَمَا اسْتَقَامُوا لَكُمْ فَاسْتَقِيمُوا لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

“Bagaimana bisa ada perjanjian (aman) dari sisi Allah dan RasulNya dengan orang-orang musyrikin, kecuali orang-orang yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) di dekat Masjidil haraam? maka selama mereka berlaku lurus terhadapmu, hendaklah kamu berlaku lurus (pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa”. (Q.S. At Tawbah: 7)

كَيْفَ وَإِنْ يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ لَا يَرْقُبُوا فِيكُمْ إِلًّا وَلَا ذِمَّةً يُرْضُونَكُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ وَتَأْبَى قُلُوبُهُمْ وَأَكْثَرُهُمْ فَاسِقُونَ

“Bagaimana bisa (ada perjanjian dari sisi Allah dan RasulNya dengan orang-orang musyrikin), padahal jika mereka memperoleh kemenangan terhadap kamu, mereka tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap kamu dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Mereka menyenangkan hatimu dengan mulutnya, sedang hatinya menolak. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (tidak menepati perjanjian).” (Q.S. At Tawbah: 8)

Setidaknya ada tiga kerancuan setelah kita baca tiga ayat Setelahnya.

  1. Pada surat At Taubah ayat 6 Allah memerintahkan untuk melindungi orang-orang musyrik yang meminta perlindungan pada kita (dan selama mereka ada di antara kita), dengan harapan mereka punya kesempatan untuk mendengar ayat-ayat suci Al Qur’an yang kita baca dan kemudian beriman kepada Allah. Allah juga memerintahkan untuk mengantarkan mereka pada tempat tinggal mereka walaupun tidak menjadi iman. Andaikata kekufuran menjadi motif perang mana mungkin kita diperintahkan untuk melindungi mereka yang benar-benar kufur? Lalu untuk apa Allah memerintahkan semua ini? Tidak lain karena mereka tidak menampakkan permusuhan dan cenderung untuk mengajak damai sehingga secara moral kita harus mengimbanginya dengan hal serupa, meskipun pada akhirnya mereka tetap tidak iman.
  2. Pada ayat ke 7 Allah memerintahkan untuk berbuat lurus terhadap, orang-orang yang tergabung dalam perjanjian damai di Hudaibiyah, selama mereka berbuat lurus. Artinya umat Islam tetap harus memegang isi perjanjian tersebut selama mereka juga memegang janji. Kalau kekufuran adalah alasan adanya perang tentu kita tidak akan diperbolehkan mengikat perjanjian damai dengan mereka.

Kalau toh kita andaikan bahwa perjanjian Hudaibaiyah tersebut terjadi sebelum ayat saif atau ayat perang (Q.S. At-Taubah: 5), dan ayat saif sebagaimana klaim mereka benar-benar menaskh (menghapus) ayat-ayat ini (Q.S. At-Taubah: 6-8), bukankah berarti ayat saif tersebut menghentikan perjanjian Hudaibiyah ini, sekaligus melarang pengadaan perjanjian lain setelahnya (sebagai konsekuensi hukum yang telah dinasakh)? Jika benar demikian adanya, bagaimana dengan perintah Allah supaya kita berbuat lurus kepada mereka selama mereka juga berbuat lurus dan menjaga perjanjian Hudaibiyah (sebagaimana pada ayat 7)? Bukankah. ini berarti sebuah perintah untuk mempertahankan dan melestarikan hasil perjanjian Hudaibiyah?

  1. Pada ayat ke 8 dari surat at-Taubah Allah mengingkari adanya perjanjian antara kelompok musyrik dan kaum muslimin, dengan alasan mereka akan selalu berkhianat dan tidak memegang, Kalau alasan adanya perang adalah kekufuran tentu pengingkaran Allah dengan alasan seperti ini tidak akan ada. Karena tidak ada bedanya antara mereka mau memegang janji atau tidak, cukup dengan kekufuran mereka, mereka sudah harus diperangi.

Dari penelitian terhadap tiga ayat di atas, jelas sekali kerancuan apa yang dipahami oleh kelompok ini. Apa lagi tiga ayat ini berada persis di bawah ayat Saif yang mereka jadikan landasan dan tidak satupun ulama yang menyatakan ayat ini diturunkan sebelum ayat saif, sehingga bisa dinaskh hukumnya dengan ayat saif.

Adapun kelemahan pendapat pertama yang menggunakan ayat yang kedua (at-Taubah: 29) sebagai hujjah adalah:

  1. Dalam ayat ini Allah menyuruh untuk memerangi, mereka yang tidak mau beriman dengan batasan sampai mereka mau tunduk dan membayar jizyah. Jika bersedia membayar jizyah maka mereka tidak dituntut untuk masuk Islam. Seandainya yang menjadi alasan perang adaIah kekufuran, bagaimana mungkin keislaman mereka bisa diganti hanya dengan jizyah. Lalu apa yang menyebabkan jizyah bisa memberhefintikan perang? Jawabannya adalah karena mereka mau menghentikan hirabat (sikap permusuhan) dengan bukti mau menyepakati undang-undang jizyah.
  2. Dalam ayat 29 tersebut kata yang dipakai adalah Qaatiluu (perangilah) bukan Uqtuluu (bunuhlah). Dalam metode lingustik Arab kata Qaatiluu dari kata Qaatala yang punya makna musyarokah (kedua belah pihak sama-sama aktif melakukan) sekaligus menunjukkan makna reaksi dan perlawanan pada aksi yang muncul. Sehingga seseorang yang memulai aksi (membunuh) disebut Qaatil dan orang yang mengadakan perlawanan sebagai reaksi disebut Muqaatil. Dengan demikian bentuk kata yang dipakai Al Qur’an ini memberikan arti reaksi yang muncul dari aksi yang lebih dulu ada. Dari sini jelas arti ayat di atas, bahwa perintaah perang terhadap orang yang tidak beriman pada ayat tersebut karena mereka Iebih dulu memerangi dan memusuhi kita (umat Islam).

Sekarang mari kita beralih untuk meneliti dalil-dalil Hadits yang digunakan pijakan pendapat pertama.

  1. Untuk hadits pertama, seperti halnya pada ayat di atas, bahwa di sana Nabi diperintahkan untuk memerangi dengan menggunakan kata Uqaatilu yang mempunyai makna musyarakah dan lebih pada reaksi dari permusuhan mereka. Oleh karenanya tidak perlu dikupas lagi.
  2. Hadits kedua tentang perintah membunuh orang-orang tua dari kelompok musyrik. Mereka mengandaikan bahwa syuyukh (orang-orang tua) tidak mungkin bisa memusuhi atau memerangi kita. Namun mengapa Nabi memerintahkan untuk membunuh mereka? Tidak lain karena kekufuran mereka. Karena seandainya alasan membunuh tersebut adalah al Hirabah (permusuhan), bagaimana mungkin orang tua bisa memusuhi?

Pengandaian seperti ini karena mereka membayangkan syuyukh sebagai orang tua renta yang sudah tidak punya kekuatan dan tidak berguna. Padahal kata syuyukh tidaklah jelas menunjukkan arti orang yang sudah tidak punya kekuatan lagi. Bahkan dalam kitab Lisan al Arab kata syaikh (kata tunggal dari syuyukh) didefinisikan sebagai orang yang sudah berumur dan beruban. Sebagian besar ulama ahli bahasa menyatakan seorang bisa disebut syeikh kalau sudah mencapai umur 50 tahun. Dari sini muncul sebuah kesimpulan bahwa definisi asy syeikh yang ada lebih menunjukkan pada usia yang harus dihormati, usia kesempurnaan akal tanpa memandang kekuatan fisiknya.[1]

Kata asy syeikh dengan pengertian seperti ini lebih berbahaya dari anak muda yang kuat perkasa karena ia dapat menggunakan pengalaman dan kecerdikannya untuk menyusun strategi peperangan yang tidak bisa dicapai oleh mereka-mereka yang masih muda.

Sebagai contoh Malik bin Auf (pemimpin bani Hawazin) dengan usianya yang sudah tua, dialah yang menyusun strategi dan memerangi kaum muslimin saat perang Hunain. Bukankah orang tua seperti ini lebih berhak diperangi dari yang muda? Lalu apa yang dipermasalahkan dengan perintah Nabi untuk membunuh orang tua?

Dengan demikian dalil-dalil yang digunakan oleh pendapat kedua tergolong lemah baik pada dua ayat atau beberapa hadits yang utarakan untuk dijadikan dasar bahwa sebab perintah perang adalah kekufuran.

Kekufuran masih bisa diobati dengan dakwah dan tabligh, sedangkan hirabah (permusuhan) hanya bisa dilawan dengan perang. Sedangkan jihad perang masuk dalam wilayah dan otoritas kebijakan imam sebagai kepala negara. Tidak seorang pun atau kelompok manapun yang berhak memasuki wilayah ini. (Mula)

Selengkapnya buka link:
Jihad; Sebagai Pertahanan Atau Karena Kekufuran? (2)
Jihad; Sebagai Pertahanan Atau Karena Kekufuran? (1)

Kutipan: Teras Pesantren Edisi V

[1] Lisan al Arab, Juz III hal 31-32

(Visited 28 times, 1 visits today)

About Irham SingoCandi

Check Also

Barisan Terburuk dari Shalat Perempuan Adalah yang Paling Depan?

Dalam suatu kesempatan selepas isya’, seorang bapak menghampiri saya dan membuka perbincangan. Perbincangan ringan pun …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *