Home / Kajian / Jihad; Sebagai Pertahanan Atau Karena Kekufuran? (1)

Jihad; Sebagai Pertahanan Atau Karena Kekufuran? (1)


Oleh: Mulabbil Bait

Dewasa ini jihad dipahami sebagai salah satu perintah Allah yang diturunkan setelah Nabi Shallallaahu ‘Alayhi Wasallam hijrah. Tidak ada kewajiban jihad pada saat Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alayhi Wasallam dan para pengikutnya ketika beliau masih berada di Makkah. Pemahaman ini muncul karena mereka memahami jihad hanya sebatas “perang fisik” antara Islam dan kafir.

Harus diakui bahwa jihad dengan perang fisik baru diperintahkan pada periode Madinah. Namun harus dipahami juga motiv (illat) yang memperbolehkan perang. Apa hanya karena mereka kafir sehingga harus diperangi walau tidak ada sikap memusuhi dari fihak mereka atau karena ada sikap permusuhan mereka tanpa memandang kekufurannya?

Pertanyaan ini muncul karena daam literatur fiqih yang sering kita baca ternyata ada kondisi dimana kita tidak diperbolehkan memerangi orang kafir dan ada saatnya kita diwajibkan memerangi mereka.

Terjadi perbedaan pendapat yang cukup tajam di kalangan ulama dalam hal ini. Mayoritas ulama dari madzhab Hanafi, Maliki dan Hanbali menyatakan bahwa ‘illat atau alasan perang adalah dar’ul hirabah (penolakan dan perlawanan terhadap permusuhan orang kafir). Sedangkan pendapat kedua menyatakan bahwa alasan diperbolehkannya perang adalah kekufuran tanpa memandang apakah mereka memusuhi atau tidak.[1]

Dalil Pendapat Pertama

Dalil pendapat mayoritas ulama yang menyatakan bahwa ‘illat atau alasan jihad perang adalah dar’ul hirabah (penolakan dan perlawanan terhadap permusuhan orang kafir) sebagai berikut:

Q.S. Al Baqarah ayat 190:

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Q.S. Al Baqarah: 190)

Q.S. At Tawbah ayat 13:

أَلَا تُقَاتِلُونَ قَوْمًا نَكَثُوا أَيْمَانَهُمْ وَهَمُّوا بِإِخْرَاجِ الرَّسُولِ وَهُمْ بَدَءُوكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ أَتَخْشَوْنَهُمْ فَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَوْهُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Mengapakah kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama mulai memerangi kamu? Mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Q.S. At Tawbah: 13)

Q.S. Al Mumtahinah ayat 8-9:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (8) إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (9)

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (Q.S. Al Mumtahinah:  8-9)

Q.S. At Tawbah ayat 36:

…..وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً….

“….dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya……” (Q.S. At Tawbah: 36)

Ayat-ayat di atas menurut mayoritas ulama secara jelas mengungkapkan alasan (‘illat) jihad perang adalah adanya al hirabat (sikap permusuhan) dari orang kafir. Pada ayat-ayat tersebut umat Islam diperintahkan memerangi orang-orang yang memerangi atau melanggar perjanjian bersama dan Allah membolehkan berbaikan kepada mereka yang tidak memusuhi. Ayat-ayat di atas diturunkan pada periode Madinah dalam beberapa kesempatan dan tempat yang berbeda, bahkan diantaranya ada yang diturunkan selang beberapa bulan sebelum wafat Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alayhi Wasallam. Karena itu ayat-ayat ini dijadikan hujjah utama oleh mayoritas ulama.

Dalil ayat Al Qur’an ini diperkuat adanya hadits Handlanah berkata: Ketika kami berperang bersama Rasulullah[2], kami menemukan mayat perempuan terbunuh yang sedang dikerumuni banyak orang. Lalu mereka memberi jalan kepada Nabi (untuk melihatnya), kemudian Nabi berkata: “Perempuan ini tidak memerangi orang yang membunuhnya (lalu mengapa ia dibunuh?)” selanjutnya Nabi Shallallaahu ‘Alayhi Wasallam bersabda kepada seorang sahabat: ”Temui Khalid bin Walid dan katakan padanya bahwa Rasulullah menyuruhmu dengan sebuah pesan: Sungguh janganlah kamu membunuh perempuan dan orang yang disewa (al ajir).”[3]

Juga hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda: “Berangkatlah dengan nama Allah dan janganlah kamu sekalian membunuh orang yang tua renta, anak kecil dan perempuan. Dan janganlah kamu melampaui batas. Kumpulkan harta jarahanmu dan berbuat baiklah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”[4]

Wasiat Abu Bakar ketika melepas keberangkatan Usamah dan pasukannya: “Janganlah kalian berkhianat, jangan mencederai janji, jangan melampaui batas dan jangan meneror. Janganlah kalian membunuh anak-anak, orang tua renta dan perempuan. Dan jika kalian bertemu dengan kaum yang menghabiskan waktunya di dalam kuil-kuil maka tinggalkanlah mereka dengan apa yang mereka kerjakan.”[5]

Hadits-hadits tadi menerangkan bahwa Nabi melarang memerangi mereka yang tidak memusuhi kaum muslimin meskipun mereka kafir.
Baca Selengkapnya:
Jihad; Sebagai Pertahanan Atau Karena Kekufuran? (2)
Jihad; Sebagai Pertahanan Atau Karena Kekufuran? (3)

[1] Ibn Rusyd, Bidayah al Mujtahid juz I hal. 369-372. Ibnu Qudamah, al Mughni juz IV hal. 301. Al Syirbini, Mughni al Muhtaj juz IV hal. 234

[2] Perang ini adalah perang Hunain di bawah pimpinan Khalid bin Walid sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hisyam dalam kitab Sirahnya

[3] Hadits diriwayatkan Ibnu Majah, Abu Daud dan Ahmad. Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan sebuah hadits yang senada dengan hadits ini yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar

[4] Nasb al Rayah juz III hal. 386

[5] Hadits diriwayatkan oleh al Thahari dalam Tarikhnya juz III hal. 226-227. Hanya saja kalau dalam AL Muwatha’ yang diberi wasiat Abu Bakar adalah Yazid bin Abi Sufyan bukan Usamah bin Zaid

(Visited 70 times, 1 visits today)

About Irham SingoCandi

Check Also

Barisan Terburuk dari Shalat Perempuan Adalah yang Paling Depan?

Dalam suatu kesempatan selepas isya’, seorang bapak menghampiri saya dan membuka perbincangan. Perbincangan ringan pun …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *