Home / Figur / Tiga Serangkai Penghafal al-Qur’an

Tiga Serangkai Penghafal al-Qur’an

KH Arwani Amin, Farkhan, dan Ahmad Da’in adalah tiga serangkai penghafal Alquran putra pasangan H. Amin Said dan Hj Wanifah ketiganya sangan menonjol di antara putra putri H. Amin Said ketiganya juga pernah menjadi santri KH Hasyim Asy’ari di pondok pesantren Tebuireng Jombang.

Namun dari tiga saudara ini, hanya KH Arwani Amin yang diberi umur panjang dan berkesempatan mengembangkan ilmunya kepada umma, baik lewat pondok huffadh Yanbu’ul Qur’an yang di bangunnya maupun lewat jamaah thoriqoh yang di pimpinnya. Dari Yanbu’ul Qur’an ini, telah lahir kyai kyai yang sangat berpengaruh dan disegani. Diantaranya adalah KH Abdullah Salam (kajen Pati), KH Hisyam (kudus), KH Hasan Mangli (Magelang), KH Sya’roni Ahmadi (Kudus), dan masih banyak lagi santrinya yang menjadi kyai yang tersebar di berbagai kota di Indonesia, beliau selain hafal Al-Qur’an juga hafal Qira,at Sab’ah.

Farkhan, adiknya, selepas nyantri ei pesantren Tebuireng Jombang, di bawah asuhan KH Hasyim Asy’ari, lebih memilih tinggal di Kudus. Sekembalinya dari Tebuireng, ia mengajar di madrasah Muawanatul Muslimin dimana ia pernah belajar.

Sebagaimana kakaknya, KH Arwani Amin sewaktu kecil, Farkhan juga dikenal sebagai anak yang cerdas dan tekun. Sehingga ketika ia belajar di Muawanatul Muslimin, ia mendapat gelar “Farkhan Songo” karena dalam setiap pelajaran ia selalu mendapat nilai istimewa yaitu songo (sembilan).

Namun kiranya, Farkhan tidak bisa berlama-lama mengamalkan ilmu yang telah dipelajarinya, karena pada umur 45 beliau wafat.

Sementara Ahmad Da’in, adik KH Arwani Amin yang satu ini memiliki keistimewaan. Beliau sudah hafal Al-Qur’an sejak umur 9 tahun. Tak hanya itu, beliau juga hafal kitab Bukhori-Muslim. Bahkan beliau juga menguasai bahasa Inggris dan bahasa Arab meski tidak pernah belajar di lembaga pendidikan formal.

Sayang, beliau wafat dalam usia yang sangat muda, yakni 18 tahun dan masih berstatus bujang.

Namun dalam umurnya yang singkat itu, beliau telah memikat hati para guru dan kyainya karena kecerdasannya. Selain itu, beliau juga meninggalkan sebuah karya berbahasa arab berjudul ” Inqaadzul Ghariib” sebuah nadzom berbahasa Arab yang berisi 600 bait. Inqaadzul Ghariib dalam bahasa Indonesia bearti “Menyelamatkan orang-orang yang karam”. Naskah ini sampai saat ini belum diterbitkan.
Demikianlah tiga serangkai penghafal Al-Qur’an yang namanya sangat di kenal terutama di kota Kudus. Ketiganya sangat cerdas dan sama-sama tekun dalam bidangnya, yaitu belajar ilmu agama. Karena kecerdasannya mereka itu, sewaktu mondok di pesantren Tebuireng Jombang sang Kyai yaitu KH Hasyim Asy’ari memanggil mereka dengan panggilan MAS sebagai penghormatan. Padahal kepada santri kebanyakan, KH Hasyim Asy’ari memanggil dengan sebutan “CUNG”.

(Visited 16 times, 1 visits today)

About admin yk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *