Home / Berita / Kabar MUS-YQ / Santri Kuwanaran Mengkaji Tirakat Santri Di Era Modern

Santri Kuwanaran Mengkaji Tirakat Santri Di Era Modern

ISMUQ.COM, KUDUS – Santri pondok pesantren MUS-YQ Putra atau lebih dikenal dengan santri kwanaran menggelar halaqah dengan tema Tirakat Santri Di Era Modern pada Sabtu (18/11) di aula Ponpes MUS-YQ Putra. Hadir sebagai narasumber H. Mohammad Alamul Yaqin, S.H.I, M.H putra mujiz dalail almarhum KH. Ahmad Basyir Jekulo dan H. Ahmad Muttaqin. Keduanya adalah praktisi riyadlah yang sudah lama menyelami dunia tirakat.

Dalam prolognya Gus Muh (H. M. Alamul Yaqin biasa dipanggil) menyampaikan hubungan antara tirakat dan pondok pesantren. Dimana ada pesantren di situ ada tirakat. Santri menurutnya gabungan dari santun dalam tiga (three) hal. Santun dalam mencari ilmu, santun dalam beribadah dan santun dalam bermasyarakat. Tiga kesantunan ini bisa terwujud dengan tirakat.

Gus Muh mendefinisikan tirakat dalam pengertian riyadlah adalah proses untuk menahan nafsu secara baik dan benar. “Njiret weteng nyengkal mata” katanya mengutip dawuh kangjeng Sunan Kalijogo yang artinya berani lapar dengan puasa dan berani bangun tengah malam untuk shalat malam. “Santri itu tidur, makan dan pakaiannya harus berkwalitas. Turu seng kepenak mangan seng enak lan nyandang seng apik” ungkapnya dalam bahasa jawa. Gus Muh menjelaskan bahwa tidur yang nyaman adalah tidurnya orang yang sudah benar-benar mengantuk, makan yang enak adalah makannya orang yang benar-benar merasa lapar dan berpakaian yang indah bukan dengan pakaian yang mahal tapi pakaian budi pekerti akan menyenangkan bagi setiap orang yang memandangnya.

Lebih lanjut Gus Muh menyampaikan manfaat dari tirakat disamping sebagai terapi kejiwaan pembentuk kedisplinan (istiqamah), karakter dan mensucikan akal juga bisa mengurangi penyakit hati. Image santri zaman dulu yang terkenal sakti sehingga preman-preman segan itu berawal dari lelaku yang Istiqamah dimana Istiqamah lebih baik dari seribu keramat. Kebahagian santri itu ketika sudah mendapatkan pemahaman sebuah ilmu.

Pada kesempatan berikutnya H. Ahmad Muttaqin mengingatkan santri untuk selalu waspada. Era modern yang serba mudah, belanja lewat smartphone, transportasi pesannya juga lewat smartphone dan segala informasi dengan mudah didapat melalui smartphone. Dunia seakan telah terfutuh (terbuka) melalui smartphone. Penting untuk menghadapinya dengan kendali tirakat. “Kemajuan teknologi telah nyata di depan mata, tinggal bagaimana kita mensyukurinya” terangnya.

Antusias peserta tampak dari banyaknya santri yang mengajukan pertanyaan pada pemateri. Saat salah satu audien menyampaikan stigma masyarakat terhadap dunia pesantren salaf yang identik dengan gudik atau kudis, Gus Muh menyangkalnya. Salah jika dikatakan pesantren salaf itu tidak modern. Justru dunia santri menurutnya itu lebih modern, karena dalam dunia santri diajarkan berfikir secara ilmiah berdasar pada ilmu. Modernitas lebih itu lebih pada pola fikir sedangkan gudig itu faktornya gaya hidup. Dia juga mengulas pertanyaan tentang tirakatnya para ulama dahulu dalam mencari ilmu. Santri era modern juga harus menirunya tentunya dengan model yang berbeda agar tidak serba instan. Karena belajar ilmu dengan instan tanpa tirakat maka yang terjadi adalah mufti-mufti sesat.

“Seng penting yakin” kata H. A. Muttaqin menguatkan. Ketika santri sudah yakin terhadap pilihannya, maka pasti akan bermanfaat. Man lam ya’taqid lam yantafi’. Abaikan stigma masyarakat tentang pondok pesantren. Cukup dengan meningkatkan kwalitas diri untuk menjawab pandangan negatif terhadap dunia santri.

(Visited 141 times, 1 visits today)

About Irham SingoCandi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *