Home / Opini / Catatan Hari Santri; Jihad “Kebangkitan Ekonomi”

Catatan Hari Santri; Jihad “Kebangkitan Ekonomi”

Oleh: Ferhadz Ammar Muhammad

Wahai para pemuda putera bangsa yang cerdik pandai dan para ustadz yang mulia, mengapa kalian tidak mendirikan saja suatu badan usaha ekonomi yang beroperasi, di mana setiap kota terdapat satu badan usaha yang otonom. Badan usaha ini secara khusus untuk kaum ulama dan bagi lainnya yang masuk kaum terpelajar. Dari badan usaha ini didirikan suatu darun nadwah (balai pertemuan) sebagaimana yang dilakukan para sahabat. (Kutipan paragraf “Piagam Nahdlatut Tujjar” dalam Mun’im DZ, ed., Piagam Perjuangan Kebangsaan; 2011, 28).

Empat hari yang lalu, 22 Oktober 2017, negeri ini kembali menemukan fungsinya. Bukan dari gelaran forum para profesor dan peneliti luar negeri, melainkan gerombolan para santri dari bilik-bilik bumi pertiwi. Peringatan itu membawa memori seluruh warga Indonesia pada kejadian 72 tahun silam, Resolusi Jihad oleh Hadhratussyaikh Hasyim Asy’ari namanya. Bukan berupa teks mempertahankan negeri semata, melainkan menjadi ruh ad-da’wah bagi pengisian kemerdekaan dan kedaulatan bangsa.

Sebagai seorang yang beragama, setiap peristiwa pasti membawa hikmah, sebab Qur’an pun mengajak para manusia agar mengambil pelajaran dibalik setiap kejadian. Demikian juga dalam upacara peringatan “Hari Santri 2017” itu. Banyak sekali spirit yang bisa diteruskan pada generasi kini dan nanti. Sebagai bagian dari santri, penulis akan mencoba merefleksikan acara tersebutdengan mengambil fokus pada kemandirian ekonomi sebagai upaya agar pesan dan spirit Hari Santri 2017 ini tetap abadi.

Gerakan Pedagang
Gagasan ekonomi diHari Santri 2017 lahir dari catatan dan wacana serta diskusi panjang oleh tokoh-tokoh NU sekarang. Akan tetapi jauh sebelum itu, dibalik segala ide yang pernah hadir di kalangan Nahdlatul Ulama, tentu fakta sejarah Nahdlatul Tujjar adalah dasar dari segala rancangan ekonomi jam’iyyah terbesar itu.Nahdlatul Tujjar ini erat kaitannya dengan kemasyhuran Surabaya sebagai kota dagang dan industri sekitar awal abad ke-20,serta daerah dengan puncak arus perdagangan yang penting di kancah nasional maupun internasional. Hampir semua komponen masyarakat, tidak terkecuali para kyai, memiliki relasi perdagangan di kota ini. Ketatnya persaingan antar pedagang pun tidak bisa dielakkan. Oleh karena itu, para kyai yang terlibat dalam persinggungan dengan kelompok pedagang lain berupaya untuk membangun basis ekonomi bersama demi melindungi kegiatan ekonomi yang digunakan untuk tujuan pengembangan dakwah dan kemandirian pesantren. Maka di tahun 1918, saat para pedagang saling mendirikan perkumpulan-semacam gank dagang-, para kyai yang dimotori oleh Hadhratusyaikh Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Chasbullah bersepakat untuk mendirikan sebuah perkumpulan yang bernama Gerakan Pedagang (Nahdlatul Tujjar).

Lewat Badan Usaha Al-Inan yang dimilikinya, Nahdlatul Tujjar mulai merangsak naik menjadi organisasi saudagar
yang diperhitungkan. Berkat kemandirian itu, para kyai pesantren semakin lantang menyuarakan kebenaran sesuai dengan keyakinan mereka tanpa takut jikalau ekonomi pesantrennya digencet oleh pihak luar. Bahkan saat kyai pesantren didiskriminasi oleh kalangan luar kaitannya dengan pendelegasian untuk Kongres Islam, mereka berani berangkat secara mandiri untuk tetap mengikuti Kongres Islam di Arab Saudi, sebab menyangkut aqidah yang tidak bisa ditawar lagi. Para kyai pesantren tentu telah mengkalkulasi semuanya, mulai dari persiapan argumen rasional dan biaya. Khusus yang terakhir, yakni biaya, syukur alhamdulillah para kyai yang dikenal dengan sebutan Komite Hijazitu terbiayai dengan adanya Badan Usaha Al-Inan milik Nahdlatul Tujjar, sehingga usaha untuk menyelamatkan makam nabi dari arogansi Wahabi, dan kebebasan bermadzhab di Haramain bisa terlaksana (Mun’im DZ, ed.; 2011, 25).

Setelah Nahdlatul Ulama berdiri pada tahun 1926, otomatis segala kegiatan dan spirit perjuangan Nahdlatul Tujjar pun ikut melebur ke dalamnya. Bahkan di tahun awal NU berjalan, para anggota Tanfidziyah justru banyak dihuni oleh para saudagar, pengusaha kecil, dan pemilik tanah. Format yang demikian itu mengindikasikan bahwa ekonomi merupakan syarat penting bagi progresivitas organisasi. Sinyal ini cepat ditangkap oleh warga NU terutama di kota-kota besar. Hingga di tahun 1929 di Surabaya, beberapa tokoh NU mendirikan koperasi kaum muslimin yang berfungsi untuk mengorganisir barter atau penjualan barang dari para petani dan pengusaha kecil tradisionalis, seperti gula, kacang, minyak goreng, sayur-mayur, dan lain sebagainya. Spirit ini pun menginspirasi generasi di tahun-tahun berikutnya. Pada tahun 1937, lahirlah Syirkah Mu’awanah, sebuah koperasi yang jaringannya sudah meluas bahkan sampai ke dunia internasional, dengan pokok kegiatan yakni memperdagangkan hasil pertanian, batik, hasil laut, rokok, dan sabun  (Greg Fealy, Ijtihad Politik Ulama; 2003, 42).

Dan sekarang, spirit Nahdlatul Tujjar kembali bergelora. Mengambil momentum peringatan (bukan hanya perayaan) “Resolusi Jihad”, semua warga Nahdliyyin berbondong-bondong hadir di pusat peringatan dengan meneriakkan “Santri Mandiri NKRI Hebat”. Jargon itu sungguh menyuntikkan semangat baru. Diskusi mengenai pesan yang dibawa oleh PBNU turut menghiasi perkumpulan para santri. Dari diskusi itu lahir ide dan gagasan menarik yang perlu ditindaklanjuti (follow up), missal pemantapan LAZISNU, sosialisasi ekonomi hijau di desa-desa, dan lain sebagainya.

Ekonomi Inspiratif
Sekarang ini umat Islam dihadapkan pada fakta merebaknya lebelisasi berupa “ekonomi syar’i”, seakan-akan yang diluar konsep itu dianggap tidak Islami. Justru mengkultuskan dan mengarahkan interpretasi ekonominya pada model atau lebel “ekonomi syar’i” membuat Islam terlihat tertutup, dan cenderung bersifat imajinatif-simbolis. Meski demikian, umat juga tidak lantas musti berdiri di barisan para penganut system ekonomi kapitalis kini. Lantas bagaimana jalan yang paling realistis untuk ditempuh? Jawabnya tentulah mengupayakan pertautan esensi atau spirit di antara keduanya. Dalam hal ini, beberapa batas-batas prinsipil musti dipahami dalam praktik pengimplementasian ekonomi, agar tidak keluar dari maqashid fiqh iqtishadi. KH. Said Aqil Siradj (2006; 369-371) telah jauh membahas hal ini dengan menekankan enam prinsip dasar: 1) keadilan dalam distribusi kekayaan (al-‘adalah al-ijtima’iyah), 2) Jaminan atas hak-hak dasar kemanusiaan (al-kulliyah al-khams), 3) Kesejahteraan indvidu dan masyarakat (ar-rafahiyah al-fardiyah wa-l-ijtima’iyah), 4) Persamaan derajat (al-musawah), 5) kebebasan (al-hurriyyah), dan 6) Moderasi (at-tawassuth).

Jika kegiatan ekonomi yang dijalankan didasari dengan enam prinsip di atas, maka “kebijaksanaan ekonomi” bukanlah hal yang utopis. Ia (sistem ekonomi tersebut) lebih mengedepankan isi atau substansi Islam daripada terpaku untuk menampakkan simbol, yang bisa menciptakan eksklusifitas sendiri dihadapan kelompok sosial yang lain. Ia juga tidak berarti mengikuti segala doktrin dan model ekonomi modern (masyarakat industrial) yang justru akan menyebabkan absennya kesejahteraan sosial secara merata. Statement yang terakhir secara tidak langsung menjawab keraguan John Wesley-sebagaimana dikutip Max Weber (2006; 186-187)-saat membahas tentang masuknya doktrin agama di sektor ekonomi. Wesley sempat menulis:

“Saya takut, ketika kekayaan meningkat, esensi agama juga merosot pada proporsi yang sama… sebab agama secara pasti menghasilkan industry dan juga sikap hemat, dan keduanya tidak dapat menghasilkan apa-apa kecuali kekayaan. Akan tetapi ketika orang-orang kaya meningkat maka kesombongan, kemarahan, dan cinta terhadap dunia di dalam segala cabangnya juga akan meningkat…”

Meski Wesley memberi solusi atas fenomena demikian dengan cara “siapa saja yang dapat mencapai segalanya yang bisa mereka dapatkan dan menyimpan semua yang bisa mereka simpan, mereka juga harus memberikan semua yang bisa mereka berikan,…”, tetapi tetap saja belum memberi jawaban konkrit atas timbulnya kekhawatiran dalam bentuk arogansi kekayaan, karena-menurut Weber- corak ekonomi yang lahir di zaman modern sudah dianggap tidak ada hubungannya dengan panggilan spiritual. Tentunya ini berbeda dengan keyakinan KH. Saiq Aqil, bahwa “…ikatan-ikatan agama tidak bisa dilepaskan dalam praktik ekonomi.” Meski konteks keduanya berbeda–KH. Said Aqil berbicara mengenai ekonomi dalam ajaran Islam, sedang Weber tentang kapitalisme dalam etika protestan–tetapi keduanya bisa melahirkan dialektika mengenai peran agama dalam dinamika ekonomi dunia. Dalam hal inilah gagasan alternative yang dibawa KH. Saiq Aqil memberi solusi realistis. Pada sektor pemenuhan kesejahteraan, para ahli agama dituntut untuk menggalakkan ghirrah perekonomian lewat upaya yang kreatif dan prospektif. Namun, agar tidak keluar dari tujuan kehidupan, yakni kepentingan sosial, maka pada sektor pemerataan, tokoh agama perlu mendorong negara lewat instrumen sosialnya agar membuat regulasi guna mengatur perputaran roda ekonomi.

Follow-up
Saat turut serta menghadiri peringatan Hari Santri, penulis sendiri justru langsung teringat dengan ajakan Hadhratussyaikh dalam Mukaddimah Qanun Asasi. Jika diperhatikan secara saksama di kalimat ajakan itu, Hadhratussyaikh menempatkan para kelompok berdasar klasifikasi ekonomi-sosial diurutan awal. Lebih lengkapnya:
“Marilah anda semua dan segenap pengikut anda dari golongan para fakir miskin, para hartawan, rakyat jelata dan orang-orang kuat, berbondong-bondonglah masuk jam’iyah yang diberi nama “Jam’iyah Nahdlatul Ulama.”
Akhirnya, bukan tanpa alasan Hadhratussyaikh membuat urutan yang demikian. Terlepas dari interpretasi itu, yang terpenting adalah para warga Nahdliyin semua telah menunjukkan konsistensi menjaga NKRI, terutama lewat sokongan ekonomi, dan ini harus ditindaklanjuti, sebab apa yang terlaksana di Hari Santri 2017 tidak mungkin berhenti. Acara memang sudah berakhir, tetapi cita-cita, ide, dan gagasan akan senantiasa mengalir.

(Penulis adalah aktivis PMII DI Yogyakarta, Nahdliyin Cabang Lasem, santri Pesantren Tahfidz Nurul Aziz Sarang, alumnus MUS-YQ Kudus)

*) Tulisan ini dipublikasikan di www.nu.or.id

(Visited 13 times, 1 visits today)

About admin yk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *