Home / Hikmah / Dusta Pangkal Nestapa

Dusta Pangkal Nestapa

Kabar santer akhir-akhir ini mengenai kebohongan mahasiswa doktoral asal Indonesia di Belanda, yang digadang-gadang sebagai “The Next Habibie”, benar-benar mencederai nurani dan menodai dunia pendidikan. Sebelum itu, seorang rektor salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta juga dicopot dari jabatannya karena diduga terlibat praktik plagiasi di universitas yang dipimpinnya. Kondisi ini memperlihatkan betapa integritas dan moralitas sebagian intelektual masih berada pada titik nadir yang memprihatinkan.

Tidaklah patut disebut ilmuwan atau intelektual jika integritas dan moralitas tidak ada padanya. Menjunjung tinggi kejujuran adalah salah satunya. Islam sangat menjunjung tinggi sifat ini. Bahkan, jujur  (ash-shidq) menjadi salah satu sifat mutlak para nabi atau rasul. Sifat ini pula yang dilekatkan kepada Rasulullah Saw. Tak heran jika kaum Quraisy menganugerahinya gelar “manusia jujur dan tepercaya”.

Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, dalam Akhlaq al-Muslim: ‘Alaqatuhu bi al-Mujtama’, menyebutkan bahwa dalam bingkai akhlak, moral, dan perilaku, kejujuran menempati tingkatan paling tinggi, bagaikan mahkota. Ia menjadi fondasi tegaknya iman. Sementara dusta tidak akan bersanding dengan keimanan. Bahkan, menjadi salah satu sifat munafik yang menandakan kelemahan, kecemasan, dan ketakutan.

Rasulullah Saw bersabda, “Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang menuju surga. Apabila seseorang selalu jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berlaku dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang menuju neraka. Jika seseorang selalu berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Setiap kebohongan akan melahirkan kebohongan-kebohongan lain untuk menutupi kebohongan yang pertama. Beragam topeng kebohongan pun akhirnya dikenakan demi menjaga citra diri di hadapan publik dan dengan dalih gengsi. Semakin lama topeng-topeng itu dikenakan, semakin hilanglah jati diri dan jatuhlah dalam tindakan-tindakan tidak terpuji. Benar yang dikatakan Baltasar Gracian (1601-1658), seorang filsuf Spanyol, “Satu kebohongan akan menghancurkan seluruh reputasi dalam integritas.”

Berbohong tidak hanya tercela dalam pandangan agama, tetapi juga berbahaya bagi kesehatan. Pada saat berbohong, seseorang sejatinya sedang melawan apa-apa yang sebenarnya harus disampaikan. Tidak heran jika dalam kondisi demikian, terjadi konflik batin yang tak mustahil membuat jiwa seseorang tertekan sampai akhirnya gelisah, stres, takut, bahkan depresi lambat laun datang mencengkeram.

Saudra Dalton-Smith M.D.,dalam Set Free to Live Free, mengatakan bahwa berbohong dapat meningkatkan hormon stres yang bisa mengakibatkan degup jantung dan tarikan napas meningkat, pencernaan melemah, serta saraf dan otot menjadi sangat sensitif.

Mari kita junjung tinggi kejujuran dan jauhi kebohongan karena kebohongan hanya akan menjatuhkan reputasi dan mengikis kepercayaan. Betapapun pahitnya, yakinlah kejujuran akan lebih dihargai dan mendapat tempat di hati siapa saja, bahkan mendapat tempat terindah pula di surga bersama para nabi dan syahid. “Seorang pedagang yang jujur dan bisa dipercaya akan bersama para nabi, orang-orang yang benar, dan para syahid.” (HR. at-Tirmidzi)

Wallahu a’lam.

 

*) Irham Sya’roni, alumnus MUS-YQ dan TBS Kudus 1998.

(Visited 14 times, 1 visits today)

About admin yk

Check Also

Kiai Arwani Itu Kiai Sahe

KH. Muhammad Arwani Amin adalah sosok kiai, ahli al-Qur’an, pengasuh Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an, Kudus. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *