Home / Bahtsul Masail / Hukum Dana Haji untuk Investasi

Hukum Dana Haji untuk Investasi

HASIL KEPUTUSAN BMK PP.MIS KE 9

Ketua Bidang Hubungan Antaragama dan Kepercayaan PP Baitul Muslimin PDI- P, Zuhairi Miswari mengatakan, Indonesia membutuhkan referensi dalam pengelolaan dana haji yang tepat, terutama jika digunakan untuk investasi. Malaysia dianggap negara yang layak menjadi percontohan. Zuhairi menilai, Malaysia memiliki sistem pengelolaan dana haji yang sangat baik. Di sana, dana haji tak hanya bermanfaat untuk jemaah, tapi juga bagi negara.

“Mau tidak mau kita harus belajar dari Malaysia. Kalau ke Kuala Lumpur ada bangunan tabungan haji besar sekali, itu simbol kebanggaan orang Malaysia,” ujar Zuhairi dalam diskusi “Untung Rugi Investasi Dana Haji” di Jakarta, Minggu (6/8/2017).

Zuhairi mengatakan, tabungan dana haji Malaysia bisa menyubsidi biaya haji hingga 60 persen. Dengan harga ringan, jemaah haji Malaysia mendapat fasilitas sangat baik setara ONH Plus. Hal tersebut disebabkan Malaysia melakukan pendekatan bisnis dalam pengelola dana haji.

“Jadi harus benar-benar menguntungkan, yang nanti dirasakan juga sama jemaah haji,” kata Zuhairi. Dana  tersebut  dikelola  bukan  untuk  infrastruktur  sebagaimana  diwacanakan  Pemerintah Indonesia. Malaysia, kata Zuhairi, memilih sektor properti, real estate, dan teknologi untuk berinvestasi.

Hasilnya lebih menguntungkan dan meminimalisasi risiko merugi.

 

Pertanyaan :

  1. Bagaimana hukum penginvestasian dana Haji menurut prespektif fiqh?

Jawab : Boleh dengan syarat-syarat sebagai berikut.

  • Hartanya HARUS aman dari kerugian.
  • Adanya MASLAHAH, dan maslahah tersebut terutama kembali kepada pemilik dana.
  • Harus ada izin dari Muwakkil (Calon Jama’ah Haji) kepada Wakil (KEMENAG).

 

Catatan :

– Hubungan antara CJH dan KEMENAG termasuk dalam akad WAKALAH, seperti yang telah di sepakati MUI (Majlis Ulama’ Indonesia)

– Izin dari MUWAKIL (Calon Jama’ah Haji) kepada WAKIL (KEMENAG) adalah berupa tanda tangan pada formulir pendaftaran oleh MUWAKIL.

 

2. Dan kalau memang tidak boleh bagaimana sikap kita dalam menanggapi hal yang seperti ini?

Jawab : Gugur, karena jawaban pertanyaan a BOLEH.

 

Referensi atau maraji’ bisa dilihat di https://drive.google.com

(Visited 18 times, 1 visits today)

About admin yk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *