Home / Bahtsul Masail / Akulturasi sebagai Pilihan, Keharusan, atau Larangan dalam Berdakwah?

Akulturasi sebagai Pilihan, Keharusan, atau Larangan dalam Berdakwah?

Deskripsi masalah:

Perkembangan Islam di Indonesia terutama di Pulau Pawa tidak bisa lepas dari peran para walisongo. Para walisongo selaku orang yang memiliki kapasitas keilmuan agama Iislam yang mumpuni secara dhohir batin tentu memiliki strategi yang jitu dan matang dalam menyebarkan dakwah Islam di Jawa. Salah satu strategi yang diambil oleh para walisongo adalah akulturasi[1] dan toleransi terhadap budaya yang berkembang di masyarakat pada saat itu. Salah satu contohnya adalah dakwah yang dilakukan oleh Sunan Kudus terhadap masyarakat Kudus pada saat itu yang masih beragama Hindu, beliau menerapkan larangan menyembelih sapi, membangun menara dan tempat wudlu bercorak Hindu sebagai wujud toleransi dan akulturasi budaya. Akhirnya dengan seiring berjalannya waktu, strategi tersebut membuahkan hasil yang menggemberikan yaitu masuk Islamnya masyarakat Kudus yang dulunya berstatus pemeluk agama Hindu dengan kerelaan hati tanpa ada paksaan dan kekerasan.

Tapi di sisi lain dakwah dengan cara akulturasi menurut sebagian pihak tidak dapat dibenarkan dengan beberapa pertimbangan:

  1. Ada hadits yang mengatakan من تشبه بقوم فهو منهم
  2. Masih bisa berdakwah dengan cara yang lain

Pertanyaan (dari IKSAB PP LIRBOYO KOTA KEDIRI)

  1. Dalam konteks sekarang, dengan berbagai pertimbangan dan fakta sejarah seperti di deskripsi masalah, bagaimanakah hukum mengakulturasi budaya Kristen dalam berdakwah? Seperti ikut merayakan natal tapi diisi dengan pembacaan tahlil dan lain-lain.

Jawaban:

Hukum akulturasi budaya Kristen (non muslim) adalah:

  • Haram apabila ada hubungannya dengan ibadah dan akidah atau mengandung unsur tasyabbuh dan syiar simbol kekufuran.
  • Haram dan mengakibatkan kekufuran apabila ada unsur memuliakan dan condong pada agama mereka.
  • Boleh selama perayaan tidak ada hubungannya dengan ibadah, akidah dan tidak melanggar syariat

 

2. Budaya apa sajakah yang boleh diakulturasi?

Jawaban:

Budaya yang boleh diakulturasi adalah yang tidak ada hubungannya dengan akidah, ibadah dan tidak melanggar syariat.

      [1] Akulturasi adalah proses percampuran dua kebudayaan atau lebih. Windi Novia S.Pd., kamus ilmiah popular edisi lengkap, gama press, hal 21.

Hasil Keputusan Bahtsul Masa’il Halaqoh Kubro IKSAB 1438 H

 

Referensi atau maraji’ bisa dilihat di https://drive.google.com

(Visited 15 times, 1 visits today)

About admin yk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *