Home / Hikmah / Gunakan Mudamu Sebelum Datang Tuamu!

Gunakan Mudamu Sebelum Datang Tuamu!

Ibnu Abbas menceritakan bahwa Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam pernah menasihati seseorang dengan lima pesan penting berikut.

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: (1) waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, (2) waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, (3) masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, (4) masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, dan (5) hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. al-Hakim)

Hadits ini tidak boleh sekadar kita baca dan hafal, tetapi harus benar-benar kita amalkan karena inilah kunci kesuksesan yang diberikan Nabi kepada kita, baik di dunia maupun di akhirat. Jika kita manfaatkan lima waktu tersebut secara sungguh-sungguh, insyaAllah kesuksesan akan menyambut kita. Sebaliknya, jika kita tidak mengacuhkannya, tunggulah saat diri kita tidak lagi bernilai di mata siapa saja.

Waktu memang kekayaan paling mewah yang sering kita lupakan. Barulah saat datang waktu tua, ketika sakit mendera, kala kemiskinan mengimpit diri, bilamana kesibukan menyita seluruh detik kita, atau saat ajal tiba, ketika itulah akan kita sesali seluruh waktu yang terbuang percuma. Wajar jika kemudian Jessica Huwae, dalam Javier, mengatakan, “Waktu adalah kemewahan yang tidak bisa kau ulur ataupun putar ke belakang.”

Abul ‘Atahiyah (748–828), seorang penyair Irak (lahir di Kufah dan meninggal di Baghdad), juga pernah mengungkapkan hal senada melalui untaian syair indah nan mengharukan. Syair ini berkisah tentang penyesalan seseorang yang telah menyia-nyiakan masa mudanya.

 

بَكَيْتُ عَلَى الشَّبَابِ بِدَمْعِ عَيْنِي  #   فَلَمْ يُغْنِ البُكَاءُ وَلاَ النَّحِيْبُ

Kutangisi masa mudaku dengan aliran air mataku

Akan tetapi tangisan dan ratapanku tiada guna

 

فَيا أسَفاً أسِفْتُ عَلىَ شَبَابٍ #  نَعَاهُ الشَّيْبُ والرّأسُ الخَضِيْبُ

Sungguh aku bersedih dan menyesal atas masa mudaku

Masa tua dan rambutku yang disemir (karena beruban) telah berduka atas masa mudaku

 

عَرَيْتُ منَ الشّبابِ وَكُنْتُ غَضًّا #  كمَا يَعْرَى مِنَ الوَرَقِ القَضِيْبُ

Masa mudaku telah hilang, padahal dahulu aku segar bugar

Sebagaimana batang pohon yang kering dengan gugurnya dedaunan

 

فيَا لَيتَ الشّبابَ يَعُودُ يَوْماً #  فأُخبرَهُ بمَا فَعَلَ المَشيبُ

Aduhai seandainya suatu hari masa mudaku bisa kembali

Akan kukabarkan kepadanya tentang apa yang menimpa masa tuanya

(Visited 14 times, 1 visits today)

About admin yk

Check Also

Kiai Arwani Itu Kiai Sahe

KH. Muhammad Arwani Amin adalah sosok kiai, ahli al-Qur’an, pengasuh Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an, Kudus. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *