Home / Hikmah / KH. Ahmadi Abdul Fatah, MA: Tata Cara Taubat Nashuha

KH. Ahmadi Abdul Fatah, MA: Tata Cara Taubat Nashuha

Setiap bulan Syawal utamanya pada awal bulan kita sering melihat dan melaksanakan Acara Halal Bi Halal. Halal bi Halal adalah saling memaafkan atau menghalalkan kesalahan, kekhilafan antara satu dengan lainnya. Lebih baik dan lebih sempurnanya adalah apabila silaturahim dan halal bi halal itu dilakukan dengan mengunjungi saudaranya satu persatu dengan membawa sekedar oleh-oleh, mengucap salam, mushafahah, ramah tamah dan saling menghalalkan serta saling mendo’akan. Namun hal itu tidak memungkinkan karena membutuhkan tenaga, waktu dan biaya yang tidak sedikit. Oleh karenanya Acara Halal Bi Halal secara bersama-sama bisa menjadi pilihan yang lebih efesien dan ekonomis.
Halal bi Halal sangat penting dan harus dilestarikan karena minimal ada 2 hal penting yaitu Silaturahim dan Halal Bi Halal. Sebab manusia itu tidak lepas dari kesalahan. Sebagaimana sabda nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam:
عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Dari Anas bin Malik berkata; Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda; Setiap manusia banyak melakukan kesalahan dan sebaik-baiknya orang yang banyak melakukan kesalahan adalah yang mau bertaubat.”
Menurut ahli sharaf lafadh خَطَّاء mengikuti wazan فَعَّال yang berfaidah li al-katsrah bermakna banyak. Sehingga jelas bahwa dosa/kesalahan manusia tidak hanya sedikit tapi banyak dan sering melakukannya. Baik dosa yang dilakukan oleh mata, telinga, tangan, kaki dan anggota lainya. Bagi orang yang berdosa wajib untuk melakukan taubatan nashuha sebagaimana firman Allah subhaanhu wata’ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ
“Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai” (Q.S. At Tahrim; 8)
Taubat itu ada dua:
1.Taubat dari dosa yang berhubungan dengan Allah (huquq Allah) misalnya; meninggalkan shalat 5 waktu padahal tidak ada udzur, mengkonsumsi narkoba dan minum-minuman keras dan taubat
2.Taubat dari dosa yang berhubungan dengan sesama manusia (huquq al adamy) misalnya; mencuri, merampok, menipu, korupsi, mengumpat, melukai, memukul dll.
Syarat bertaubat dari huquq Allah agar taubat kita diterima oleh Allah ada 3 syarat:
1.An Nadaamah (menyesal dan mengakui kesalahan)
Sebesar apapun dosa kita selama kita mau mengakui kesalahan dan mau bertaubat maka Allah akan mengampuninya. Dalam hadits al ifq (kisah fitnah perselingkuhan Sayyidah ‘Aisyah dengan sahabat Shofwan bin Mu’aththal) Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا اعْتَرَفَ بِذَنْبِهِ ثُمَّ تَابَ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ
“Sesungguhnya seorang hamba apabila mengakui dosanya kemudian bertaubat maka Allah akan menerima taubatnya.”
2.Al Iqlaa’ (berhenti seketika dari perbuatan dosa)
Orang yang bertaubat tapi masih melakukan dosa itu sama saja menghina Allah subhaanahu wata’ala
3.Al ‘Azmu ‘alaa ‘an la ya’uuda limitslihi (tekad kuat untuk tidak mengulang kesalahan yang sama)
Orang yang bertaubat tapi tidak mempunyai tekad kuat untuk tidak mengulang kesalahan yang sama itu ibarat taubat cengeh (lombok).
Syarat bertaubat dari huquq al adamy ada 4:
1.An Nadaamah (menyesal dan mengakui kesalahan)
2.Al Iqlaa’ (berhenti seketika dari perbuatan dosa)
3.Al ‘Azmu ‘alaa ‘an la ya’uuda limitslihi (tekad kuat untuk tidak mengulang kesalahan yang sama)
4.Al Istihlal atau Thalab al Baraa’ah (minta halal atau dibebaskan)
Meminta halal atau pembebasan kepada orang yang didhalimi (mahdlum) dibuktikan dengan mengembalikan kedhaliman (rad al madhalim). Apabila mencuri maka harus mau mengembalikan barang curiannya, memukul orang lain harus siap dibalas dengan pukulan yang sama.
Ketika kita melakukan kesalahan atau dosa kepada orang lain jangan sampai kita malu untuk meminta maaf walau kepada orang yang derajatnya dibawah kita. Dalam hadits diriwayatkan:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ. قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ فَقَالَ: إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ
“Dari Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: Tahukah kamu siapa orang yang bangkrut? Para Sahabat menjawab: orang yang bangkrut diantara kita adalah orang yang tidak mempunyai dirham dan harta dagangan. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang besok hari kiamat membawa pahala shalat, pahala puasa, pahala zakat tapi ia mencaci orang ini, menuduh zina orang ini, memakan harta orang ini, mengalirkan darah orang ini dan memukul orang ini, maka pahala kebaikannya akan diberikan kepada orang ini (yang didhalimi) dan kepada orang ini (yang lain). Kemudian apabila telah habis pahala kebaikannya sebelum selesai tanggungannya maka akan diambil dosa-dosa kesalahan mereka lalu dilimpahkan kepadanya kemudian ia dilempar kedalam api neraka.”
Sayang seribu sayang apabila pahala amal kebaikan kita, pahala shalat kita, pahala puasa kita dan pahala zakat kita dinodai dengan kedhaliman kepada orang lain. Marilah kita meminta maaf ketika kita melakukan kesalahan kepada orang lain. Meminta maaf tidak akan mengurangi kemuliaan kita, bahkan bisa menambah kemuliaan kita di hadapan Allah dan di hadapan manusia karena meminta maaf menunjukkan ke-gentle-an kita bahkan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam memuji orang yang mau meminta maaf dalam sabdanya:
وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Sebaik-baiknya orang yang banyak melakukan kesalahan adalah yang mau bertaubat.”
Bagi orang yang dimintai maaf untuk mau membuka hati memaafkan kepada orang yang memintanya. Sebagaimana firman Allah subhaanahu wata’aala:
فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“…maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al Ma’idah; 13)
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam berjanji dalam sabdanya:
وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا
“Allah tidak akan menambah seorang hamba yang memberi maaf kecuali kemuliaan.”
Demikian semoga ada berkah dan manfaatnya. Amin. (Abi Nala)

 

*) Disampaikan oleh KH. Ahmadi Abdul Fatah, MA., dalam Halal Bi Halal 1434 H Keluarga Besar Yayasan Arwaniyyah Kudus.

(Visited 21 times, 1 visits today)

About admin yk

Check Also

Jangan-jangan Kita Termasuk Orang Sombong

  Orang sombong ialah orang yang tidak mau menerima jika dinasihati. Sebaliknya, jika memberi nasihat, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *